Rabu, 18 Januari 2012

Jangan biarkan berlarut-larut

Ada sebuah quote menarik:

“Humans are not the only animals with character, rational thought and problem-solving skills — those qualities are not reserved for humans alone. Like humans, animals experience emotions like sadness, happiness, as well as despair. Humans are not the only ones who experience mental and physical pain; if we accept all of this, we’ll become less arrogant.”


Lebih dari satu kali, gw mendapatkan bbm yang berisi foto diatas, seekor anjing, dengan mulut hancur. Disitu disertakan sebuah cerita, bahwa mulut anjing tersebut hancur karena perbuatan anak-anak yang bermain dengan mercon. Jadi, anak-anak tersebut memasukkan mercon ke dalam mulut si anjing, lalu mengikat mulutnya supaya tidak bisa diludahkan kembali. Meledaklah mercon itu dan tentu saja menghancurkan mulut anjing tersebut. Si anak, menganggap ini hanyalah kesenangan sesaat, kembali bermain tanpa perduli keadaan anjing tersebut.

Si anjing, tentu saja menderita setengah mati. Bayangkan bagaimana sakitnya jika seseorang memasukkan mercon ke mulut kita, dan mercon tersebut meledak. Anggap saja imajinasi gw berlebihan, tp terpikir bagaimana takutnya anjing tersebut saat dia tidak dapat meludahkan benda asing di mulutnya karena terikat erat. Mungkin, anjing itu mendekat karena ingin bermain-main dengan mereka, tetapi malahan diperlakukan seperti itu. Atau mungkin juga mereka sengaja mengejar anjing tersebut saat satu-satunya kesalahannya adalah lewat di tempat yang salah dan bertemu dengan orang-orang yang salah. Bayangkan bagaimana perihnya, saat jari kita terluka, dan pikirkan bahwa yang dirasakan oleh anjing tersebut mungkin 100 kali lebih menyakitkan.

Yah, gw sendiri tidak tahu kebenaran cerita diatas, tetapi foto yang disertakan cukup menjadi bukti bahwa anjing itu, entah bagaimana, entah mengapa telah dilukai oleh seseorang. Gw termasuk orang yang percaya, bahwa seekor binatang hampir tidak mungkin salah. Jika mereka menyerang atau merusak sesuatu, akar permasalahannya akan kembali pada perbuatan kita manusia.

Ada cerita seekor anjing di jakarta menyerang anak majikannya yang masih bayi.  Si anjing, tentu saja ditembak mati. Orang-orang, tentu saja menyalahkan anjing tersebut. Tetapi bagaimana dengan kondisi hidup anjing itu selama ini? Dia dipelihara di atap rumah,tempat jemuran. Hujan kehujanan, panas kepanasan. Tidak terurus, kurus, bahkan tulang-tulangnya sampai menonjol. Hampir bisa dipastikan dia sangat jarang berinteraksi dengan manusia. Apa salah kalau akhirnya dia jadi buas?

Gw juga ada cerita, seorang pria paruh baya, membeli jenis anjing yang sama dengan cerita diatas. Pria tersebut tinggal sendirian, hanya berdua dengan anjingnya. Dia juga sangat menyayangi anjing tersebut. Suatu hari, tetangganya merasa heran, karena sudah beberapa hari pria tersebut tidak terlihat keluar rumah. Karena curiga, si tetangga menghubungi saudara pria tersebut, dan singkat kata, mereka masuk ke rumah itu. Apa yang mereka temukan? Mereka menemukan pria itu sudah tidak bernyawa, dan si anjing menangis sambil terus-menerus menjilati wajahnya seakan berusaha membangunkan tuannya. Dan pada akhirnya, diketahui pria tersebut sudah meninggal sekitar 3 hari sebelum ditemukan. Terbayang betapa laparnya 3 hari tidak makan untuk si anjing? Tetapi anjing tersebut tidak memakan jasad tuannya, bahkan terus berusaha membangunkannya. Secara logika, mungkin ada yang berpikir bahwa si anjing berusaha membangunkan untuk minta makan, dan bukan menangisi tuannya. Mungkin juga, tetapi faktanya toh, si anjing tetap tidak menyantap daging yang ada di hadapannya. :p

Kedua cerita diatas kisah nyata. Dengan anjing dari jenis yang sama. Jenis yang disebut-sebut paling ganas dan jahat. Tetapi kenapa ceritanya begitu berbeda? Menurut gw, karena mereka mendapatkan perlakuan yang berbeda dari majikannya. Seperti manusia, binatang juga dapat merasakan ikatan dengan orang-orang yang menyayanginya. Mereka juga punya perasaan. Yah, sangat mungkin pendapat gw ternyata subjektif, mengingat gw seorang yang menyukai binatang. Mungkin opini gw bias, karena kesukaan gw terhadap binatang.  

Masih menurut gw, akhir-akhir ini, rasa sayang dan peduli manusia terhadap makhluk hidup lain cenderung menurun drastis. Lihat bagaimana kejamnya perlakuan terhadap anjing di foto itu. Lihat bagaimana anak-anak semakin susah menghargai seekor binatang. Gw pernah lihat seekor anak mengejar dan menendang-nendang seekor kucing liar. Saat gw tegur, si anak cuma senyum-senyum.  Gw pernah melihat sebuah artikel, dimana seekor kucing jalanan dipotong kakinya oleh seseorang entah untuk tujuan apa. Gw juga pernah menemukan sebuah video dimana seekor anak kucing, diinjak-injak memakai high heels sampai mati. Juga ada foto, dimana seekor anjing, dimasukkan dalam karung sampai sebatas leher, dengan mulut terikat, dan tatapan kosong yang tampak sedih.

Tidak perlu saling tuding untuk mencari siapa yang salah. Tidak perlu menyalahkan kenakalan anak-anak, kurang pendidikan, atau orang tua yang tidak pedulian. Yang perlu dan bisa kita lakukan, adalah memperbaiki keadaan. Kita bisa memberikan pengertian dan menegur saat melihat perlakuan yang salah di sekitar kita. Orang tua juga bisa memberikan pengertian sejak dini kepada anak-anaknya. Ajari anak-anak kecil untuk menyayangi, atau paling tidak menghargai mahkluk hidup lain. Tidak semua orang suka binatang, tetapi kita tidak harus menyakiti dan mengusik apa yang tidak kita sukai bukan? Karena bukan tidak mungkin, jika saat ini kita membiarkan mereka semena-mena terhadap binatang, suatu saat mereka akan melakukan hal yang sama kepada kita atau orang lain.