Hari ini, di twitter ada yang tanya kepada seorang travel writer
“bagaimana kita harus menyikapi kalau ada yang berpendapat budget traveler itu ‘kasian’”.
Gw sendiri jadi gatal pingin berkomentar meski bukan gw yang ditanya. Jadi, di
sinilah gw mau menumpahkan uneg-uneg.
Sebenarnya, menurut gw pribadi sih, budget traveler bukanlah
orang yang patut dikasihani. Baik budget traveler karena emang pelit, emang dia
pinginnya begitu, atau emang karena ga punya duit. Percaya deh, traveling hemat
itu bakal dapat pengalaman jauh lebih banyak. Dan itu yang bikin kita lbih ‘kaya’.
Kita bisa lebih berbaur lebih baik dengan masyarakat
sekitar, maupun dengan traveler lain. Dan hal ini akan banyak membawa
pengalaman dan petualangan baru. Traveling hanya sekedar ‘melihat’ tempat
tujuan malah sama sekali nggak berkesan buat gw.
Contohnya, pernah nih waktu di Penang, seharian ambil city
tour. Dan seperti biasa, jadwal tour dikemas padat. Hasilnya, baru setahun tapi
ga ada kesan yang nempel di gw. Bahkan gw sudah lupa waktu itu kemana aja.
Pernah waktu di Changi, gw ketemu serombongan oom dan tante
asal yang kesulitan cari jalan keluar. Ternyata, karena baru sekali ini pergi
sendiri. Biasa sih dengan rombongan tur, jadi tahu-tahu sampai di tujuan.
Saudara yang pernah pergi ke Korea, waktu ditanya kesannya cuma
“Dingin, khan pas salju.” Jauh-jauh ke Korea cuma dapat kesan salju itu dingin?
Ternyata disana cuma keliling mall-hotel-tempat wisata dengan jadwal padat ala
tur mahal.
Seorang teman yang pernah ke Singapore berkali-kali bilang
bosan karena cuma itu-itu aja isinya. Ternyata dia belum pernah merasakan enaknya
chestnut panggang di Chinatown, serunya beli Turkish ice cream di Clarke Quay,
atau hampir tepar kecapekan karena kebanyakan jalan dan tersesat di stasiun
MRT. Soalnya semua serba terjamin dengan tinggal di hotel mewah di Orchard,
kemana-mana naik taxi, makan di mall atau di restoran mahal.
Seorang blogger asal Singapore yang pernah beberapa kali ke
Thailand, ternyata belum pernah nyobain nikmatnya street food di Bangkok atau
Phuket, atau bahkan sekedar melihat Khaosan road.. Trus ngapain aja di
Thailand? Keliling tempat wisata, mall, dan hotel. Sudah, itu aja.
Seorang teman yang membuat program tur murah, 1,25jt belum
include tiket pesawat untuk 3 hari 2 malam, tempat tujuannya cuma wat arun,
reclining Budha, dan pattaya dengan hari efektif cuma sehari aja. Dengan jumlah
uang yang sama, gw dulu di Bangkok 3 malam, makan sampai kekenyangan tiap hari,
dan belanja. Kok bisa? Karena gw tidur di hotel murah, makan murah, dan
kemana-mana naik bus atau jalan kaki.
Padahal menurut gw, street
food Thailand enak, murah dan top banget. Mulai sosis (nggak halal) gedhe
seharga 10 bath, barbeque cumi-cumi saos pedas 25 bath, crab stick super gedhe
10 bath, dan banyak lagi. Gw bahkan sudah nemu penjual thai tea super enak di Bangla
road Phuket karena nggak sengaja lewat pas kehausan karena kebanyakan jalan. Juga
dapat sandal jepit doraemon yang enak dipake, cute dan murah di 7-11 yang
nyelip di tengah-tengah Khaosan Road.
Bukan cuma itu, karena budget traveling ke Semarang, gw jadi tahu kalau ada kereta api bisa berhenti di tengah sawah karena penumpangnya mau turun. Rasanya persis kaya naik angkot. Atau waktu gw naik motor main ke Jogja, gw jadi mendapati di salah satu gerai bakpia harganya beda antara bermobil, bermotor, dan berbecak. Sekedar informasi, bermotor dapat harga paling murah. dan waktu ke Jogja berikutnya naik kereta, otomatis gw harus sering jalan kaki, karena itu gw mendapati banyak yang menyewakan jasa charge handphone seharga 2000 rupiah di pinggir jalan. Kreatif juga caranya cari duit.
Jadi, kalau kebetulan kamu seorang budget traveler, ga usah
dipikirin apa kata orang. Yang penting sih kamu senang, nyaman, bisa menikmati,
ya sudah. Toh masing-masing cara traveling ada keuntungan dan kerugiannya
sendiri.