Selasa, 10 April 2012

Budget traveler itu kasihan?


Hari ini, di twitter ada yang tanya kepada seorang travel writer “bagaimana kita harus menyikapi kalau ada yang berpendapat budget traveler itu ‘kasian’”. Gw sendiri jadi gatal pingin berkomentar meski bukan gw yang ditanya. Jadi, di sinilah gw mau menumpahkan uneg-uneg.

Sebenarnya, menurut gw pribadi sih, budget traveler bukanlah orang yang patut dikasihani. Baik budget traveler karena emang pelit, emang dia pinginnya begitu, atau emang karena ga punya duit. Percaya deh, traveling hemat itu bakal dapat pengalaman jauh lebih banyak. Dan itu yang bikin kita lbih ‘kaya’.

Kita bisa lebih berbaur lebih baik dengan masyarakat sekitar, maupun dengan traveler lain. Dan hal ini akan banyak membawa pengalaman dan petualangan baru. Traveling hanya sekedar ‘melihat’ tempat tujuan malah sama sekali nggak berkesan buat gw.

Contohnya, pernah nih waktu di Penang, seharian ambil city tour. Dan seperti biasa, jadwal tour dikemas padat. Hasilnya, baru setahun tapi ga ada kesan yang nempel di gw. Bahkan gw sudah lupa waktu itu kemana aja. 

Pernah waktu di Changi, gw ketemu serombongan oom dan tante asal yang kesulitan cari jalan keluar. Ternyata, karena baru sekali ini pergi sendiri. Biasa sih dengan rombongan tur, jadi tahu-tahu sampai di tujuan.

Saudara yang pernah pergi ke Korea, waktu ditanya kesannya cuma “Dingin, khan pas salju.” Jauh-jauh ke Korea cuma dapat kesan salju itu dingin? Ternyata disana cuma keliling mall-hotel-tempat wisata dengan jadwal padat ala tur mahal.

Seorang teman yang pernah ke Singapore berkali-kali bilang bosan karena cuma itu-itu aja isinya. Ternyata dia belum pernah merasakan enaknya chestnut panggang di Chinatown, serunya beli Turkish ice cream di Clarke Quay, atau hampir tepar kecapekan karena kebanyakan jalan dan tersesat di stasiun MRT. Soalnya semua serba terjamin dengan tinggal di hotel mewah di Orchard, kemana-mana naik taxi, makan di mall atau di restoran mahal.

Seorang blogger asal Singapore yang pernah beberapa kali ke Thailand, ternyata belum pernah nyobain nikmatnya street food di Bangkok atau Phuket, atau bahkan sekedar melihat Khaosan road.. Trus ngapain aja di Thailand? Keliling tempat wisata, mall, dan hotel. Sudah, itu aja.

Seorang teman yang membuat program tur murah, 1,25jt belum include tiket pesawat untuk 3 hari 2 malam, tempat tujuannya cuma wat arun, reclining Budha, dan pattaya dengan hari efektif cuma sehari aja. Dengan jumlah uang yang sama, gw dulu di Bangkok 3 malam, makan sampai kekenyangan tiap hari, dan belanja. Kok bisa? Karena gw tidur di hotel murah, makan murah, dan kemana-mana naik bus atau jalan kaki.

Padahal  menurut gw, street food Thailand enak, murah dan top banget. Mulai sosis (nggak halal) gedhe seharga 10 bath, barbeque cumi-cumi saos pedas 25 bath, crab stick super gedhe 10 bath, dan banyak lagi. Gw bahkan sudah nemu penjual thai tea super enak di Bangla road Phuket karena nggak sengaja lewat pas kehausan karena kebanyakan jalan. Juga dapat sandal jepit doraemon yang enak dipake, cute dan murah di 7-11 yang nyelip di tengah-tengah Khaosan Road.

Bukan cuma itu, karena budget traveling ke Semarang, gw jadi tahu kalau ada kereta  api bisa berhenti di tengah sawah karena penumpangnya mau turun. Rasanya persis kaya naik angkot. Atau waktu gw naik motor main ke Jogja, gw jadi mendapati di salah satu gerai bakpia harganya beda antara bermobil, bermotor, dan berbecak. Sekedar informasi, bermotor dapat harga paling murah. dan waktu ke Jogja berikutnya naik kereta, otomatis gw harus sering jalan kaki, karena itu gw mendapati banyak yang menyewakan jasa charge handphone seharga 2000 rupiah di pinggir jalan. Kreatif juga caranya cari duit.

Jadi, kalau kebetulan kamu seorang budget traveler, ga usah dipikirin apa kata orang. Yang penting sih kamu senang, nyaman, bisa menikmati, ya sudah. Toh masing-masing cara traveling ada keuntungan dan kerugiannya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar